Kita harus waspada terhadap stres, Stres yang tidak terkendali dapat memicu hipertensi dan stroke. Padahal hidup di jaman sekarang sulit untuk bisa bebas dari stres. Apalagi bagi masyarakat ibukota. Tiap pagi baru keluar rumah pun sudah harus berhadapan dengan macet. Sampai di kantor sudah disambut dengan tumpukan pekerjaan yang sepertinya tidak pernah habis, membuat para karyawann seringkali harus lembur. Persaingan di angkutan umum, tempat kerja, masalah keuangan, kurangnya waktu untuk keluarga, atau keinginan yang tidak tercapai tanpa disadari bisa menyebabkan stres.
Stres bukanlah hal sepele, kondisi mental tak stabil itu dapat menyebabkan hipertensi dan stroke. Spesialis Bedah Saraf dari RS Mayapada Tangerang, dr Syafrizal Abubakar SpBS, mengatakan bahwa stres menjadi pemicu kuat terjadinya stroke. "Stres menyumbang hingga 20 persen penyebab stroke," ungkapnya. |
Stres yang
tak terkendali akan memicu naiknya tekanan darah dan berisiko menyebabkan
serangan jantung. Stres juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Kondisi ini yang nantiya membuat pembuluh darah tersumbat, sehingga penderita
rentan terkena stroke.
Stres memang kondisi yang sulit
dihindari. Namun, pengelolaan stres yang baik akan menurunkan risiko terkena
stroke. Penelitian terbaru dari Cambridge University, Inggris, yang
dipublikasikan dalam jurnal Stroke, menunjukkan bahwa orang yang
mampu mengelola stres yang dideritanya, mengurangi risiko stroke sebesar 24
persen. Kesimpulan tersebut dihasilkan para peneliti setelah mengikuti riwayat
kesehatan 20.000 orang selama tujuh tahun.
Jangan Terburu-buru
Pernahkah Anda merasa hanya punya sedikit waktu untuk
menyelesaikan pekerjaan, tapi pikiran Anda justru lari ke mana- mana, meskipun
badan Anda diam? Jika jawabannya ya, Anda termasuk orang-orang yang diburu oleh
waktu. Tak heran bila stroke kian populer serta merebak di perkotaan. Akhirnya
orang yang masih muda pun menjadi sasaran stroke. Tentunya tidak ada orang yang
mau terkena stroke, tapi bila hidup selalu diburu waktu, maka risiko terserang
stroke menjadi lebih tinggi.
Jika Anda merasa tak punya cukup waktu untuk menangani tugas
atau pekerjaan, kemungkinan Anda mengalami sindrom baru yang disebut time
urgency/impatience syndrome (TUI). Menurut riset terbaru yang dilakukan di
Northwestern University, Amerika Serikat, kondisi ini ditandai dengan perasaan
tegang dan stres yang berkelanjutan dan terus-menerus merasa terpacu dan diburu
oleh waktu. Akibatnya, TUI dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit
jantung, dan stroke.
Menurut penelitian yang dilakukan di University of North
Carolina, Amerika Serikat, penderita TUI rentan mengalami serangan kemarahan,
suatu kecenderungan yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung sampai tiga
kali lipat.
Atur Waktu Istirahat
Ahli stres Michelle Weil, Ph.D., dalam buku Technostress:
Coping with Technology @ Work @ Home @ Play, menyatakan bahwa alat-alat modern yang dirancang untuk menghemat
waktu justru mendorong kita mengerjakan lebih banyak pekerjaan dengan irama
lebih cepat.
Bunyi komputer dan dering ponsel merupakan kontributor utama
pemicu TUI. Tubuh manusia tidak dirancang untuk bertahan dengan kecepatan yang
terprogram komputer. Berusaha mengimbangi kecepatan komputer menyebabkan tubuh
menjadi lelah.
Anda mungkin tak bisa mengurangi kegiatan atau kecepatan
kerja, tapi Anda bisa mencegah efek stres dengan bangun lebih awal setengah jam
untuk menikmati suasana santai bebas teknologi dengan tanpa merasa diburu-buru
oleh waktu. Misalnya, membaca koran atau melihat pemandangan lewat jendela.
Kegiatan ini memberi waktu kepada diri sendiri untuk relaks, membuat Anda bisa
seirama dengan ritme alamiah tubuh sehingga bisa mencegah stres.
Bersikap
Lebih Selektif
Masih merasa tak
punya waktu? Jika memang tak ada waktu luang lagi dalam jadwal Anda, ada satu
solusi yang bisa Anda ambil: lepaskan tugas. Aktivitas kerja yang sibuk tanpa
sadar memprogram tubuh kita untuk siap bertugas 24/7 (24 jam, 7 hari per
minggu). Sebagai akibatnya, kita selalu merasa ada tanggung jawab yang tak bisa
ditinggalkan. Kadang saking sibuknya, hubungan personal Anda dengan keluarga
jadi tersisihkan.
Perempuan memang
lebih sulit relaks dibandingkan pria karena faktor biologis. Sebuah studi dalam
Journal of Marriage and Family mengungkapkan, perempuan cenderung merasa
tergesa-gesa jika punya waktu bebas. Yang lebih buruk lagi adalah perempuan
akan merasa bersalah jika tidak sibuk, sehingga secara tak sadar tetap
menyibukkan diri. Padahal menurut Cathy Greenberg, PhD., dalam What Happy
Women Know, dengan bersikap selektif, kita bisa tampil lebih baik pada hal
yang sangat penting. Untuk menetapkan tugas mana yang bisa ditiadakan, coba
tanya pada diri sendiri, "Dapatkah
saya mempertahankan hubungan personal saya jika saya melepaskan tugas ini?" Misalnya, beli masakan jadi ketimbang masak
sendiri untuk dibawa ke arisan keluarga tak akan berefek pada kebahagian
keluarga, tetapi bisa menghapus satu tugas dalam daftar "to do" Anda.
Tindakan ini akan mengurangi beban pikiran Anda yang bisa memicu stres.
Karena itu, cobalah untuk sebisa mungkin
melepaskan diri dari stres yang berlebihan dan tak terkendali. Hanya dengan
mengurangi tingkat stres Anda saja, Anda sudah dapat menurunkan risiko terkena
hipertensi yang dapat berujung pada dua penyakit silent killer yaitu
stroke dan penyakit jantung.
Artikel sebelumnya : Lemak Perut menjadi masalah?
Artikel sebelumnya : Lemak Perut menjadi masalah?






