Showing posts with label kanker. Show all posts
Showing posts with label kanker. Show all posts

RISIKO KEGEMUKAN DAN OBESITAS TERHADAP KESEHATAN



Kesehatan adalah kekhawatiran yang utama dari risiko kegemukan dan obesitas, bukan hanya penampilan. Banyak penyakit atau masalah kesehatan yang dicurigai berasal dari kelebihan berat badan dan obesitas. Padahal seiring dengan bertambahnya umur, metabolisme menurun, sehingga otomatis penumpukan lemak lebih cepat terjadi. Ini juga dialami karena rata-rata orang, setelah usia sekolah (lulus kuliah) akan berkurang gerak fisiknya karena pekerjaan yang lebih banyak harus dilakukan sambil duduk di belakang meja.

Lalu apa sajakah risiko kegemukan dan obesitas terhadap kesehatan ?

KEMATIAN DINI

  • Sekitar 300,000 kematian per tahun diduga disebabkan oleh obesitas.
  • Risiko kematian meningkat seiring dengan pertambahan berat badan.
  • Bahkan kelebihan berat badan yang sedang saja (4.5 kg sampai 10 kg dengan orang yang bertinggi badan rata-rata) meningkatkan risiko kematian, terutama pada orang dewasa dengan usia 30 hingga 64 tahun.
  • Para individu yang obesitas (BMI > 30)* memiliki 50 sampai 100% penambahan risiko kematian dini dari semua penyebab, dibandingkan dengan orang-orang yang berberat badan sehat.

PENYAKIT JANTUNG

  • Insiden penyakit jantung (serangan jantung, congestive gagal jantung, kematian karena jantung berhenti mendadak, angina atau sakit dada, dan irama jantung yang abnormal) meningkat pada orang-orang yang kelebihan berat badan atau obesitas (BMI > 25).*
  • Tekanan darah tinggi dua kali lebih banyak dijumpai pada orang-orang dewasa yang obesitas dibandingkan pada mereka yang berberat badan sehat.
  • Obesitas dihubungkan dengan peningkatan trigliserida (lemak darah) dan menurunnya kolesterol HDL (“kolesterol baik”).

DIABETES

  • Penambahan berat badan sebanyak 5 kg hingga 9 kg meningkatkan risiko seseorang untuk terkena diabetes tipe 2 dua kali lipat dibanding mereka yang berat badannya tidak bertambah.
  • Lebih dari 80% orang yang terkena diabetes kelebihan berat badan atau obesitas.

KANKER

  • Kelebihan berat badan dan obesitas dihubungkan dengan meningkatnya risiko terhadap beberapa jenis kanker termasuk kanker endometrial, kanker usus, kanker kantung empedu,, kanker prostat, kanker ginjal, dan kanker payudara pasca menopaus.
  • Perempuan yang mengalami kenaikan berat badan lebih dari 10 kg dari usia 18 tahun hingga 50 tahun berisiko dua kali lipat terkena kanker payudara pasca menopause dibanding para perempuan yang berat badannya stabil.

MASALAH PERNAPASAN

  • Mengorok (sleep apnea) lebih sering dijumpai pada orang yang obesitas.
  • Frekuensi asma yang lebih tinggi sering dihubungkan dengan obesitas.

ARTHRITIS (RADANG SENDI)

  • Untuk setiap 1kg kenaikan berat badan, risiko terkena arthritis meningkat sebanyak 9 sampai 13%.
  • Gejala-gejala arthritis dapat membaik dengan penurunan berat badan.

KOMPLIKASI REPRODUKSI

  • Komplikasi-komplikasi pada kehamilan
  • Obesitas selama masa kehamilan dihubungkan dengan meningkatnya risiko kematian baik bagi sang bayi maupun sang ibu dan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi sang ibu hingga 10 kali lipat.
  • Sebagai tambahan dari banyak komplikasi lainnya, para perempuan yang obesitas selama masa kehamilannya akan lebih rentan terkena diabetes gestasional dan masalah saat melahirkan.
  • Bayi-bayi yang lahir dari ibu yang obesitas semasa hamil, kemungkinan besar akan memliki bobot lahir yang besar dan karenanya lebih besar kemungkinan akan dilahirkan melalui operasi Cesar dan memiliki kadar gula yang rendah (yang dapat diasosiasikan dengan kerusakan jaringan otak dan kejang-kejang).
  • Obesitas semasa hamil  juga dihubungkan dengan meningkatnya risiko cacat lahir khususnya cacat pada saraf (neuralube defects), seperti spina bifida.
  • Obesitas pada perempuan yang belum menopause dihubungkan dengan siklus menstruasi yang tidak teratur dan ketidaksuburan/infertilitas.

KONSEKUENSI KESEHATAN TAMBAHAN

  • Kelebihan berat badan dan obesitas dihubungkan dengan meningkatnya risiko penyakit kantung empedu, tak dapat menahan nafsu, peningkatan risiko operasi, dan depresi.
  • Obesitas dapat mempengaruhi kualitas hidup karena keterbatasan gerak dan menurunnya stamina sebagaimana juga dari diskriminasi sosial, akademis, dan diskriminasi kerja.

diadaptasi dari website surgeon general

Artikel lain: Perlukan suplemen untuk Detoks?
Artikel sebelumnya: Redam Panas di Perut

Apakah Kanker Leher Rahim (serviks)


KANKER LEHER RAHIM

Terdapat bermacam jenis kanker yang menggerogoti organ kandunga. Salah satunya yang paling banyak diderita wanita adalah kanker leher rahim atau kanker serviks. Hingga kini, kanker serviks masih menjadi masalah karena tingkat kematian wanita yang disebabkn kanker eher rahim tinggi sekali, terutama stadium lanjut sekitar 70-90%. Ini tentu sangat memprihatinkan apalagi sesungghnya kanker leher rahm adalah jenis kanker yang dapat diketahui ejak dini. Bahkan 5-10 tahun sejak vrus menyerang rahim.

Kanker leher rahim sebenarnya memang sudah lama sekali menjadi problem di dunia kesehatan yang tidak terselesaikan lantaran insiden peluang timbulnya penyakit ini makin Lama makin bertambah. Faktor yang mempengaruhinya bermacam-macam. Salah satunya adalah pengobatan yang tidak pernah memuaskan. Mengapa demikian? Pertama karena kita tidak penah mengetahui penyebab kanker leher rahim sehingga sel-sel kanker tersebut dapat berkembang biak dengan cepat dan tidak bisa dikendalikan oleh tubuh. Kedua adalah faktor pasiennya sendiri yang kurang sadar untuk memeriksakan penyakit yang mereka derita. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, ditambah lagi faktor budaya yang membuat para wanita masih merasa malu sehingga enggan   memeriksakan masalahnya.
Gejala Kanker Leher Rahim
Pada stadium awal, tidak terdapat gejala yang cukup berarti bagi penderita kanker leher rahim kecuali keputihan yang tidak khas seerti encer dan bau yang sangat menyengat. Gejala ini “terasa” karena banyaknya jaringan-jaringan di dalam rahim yang sudah mati. Gejala lainnya adalah berdarah saat melakukan hubungan intim.
Karena kurang jelasnya gejala awal pada penyakit kanker rahim, maka sering dijumpai kasus penyakit ini sudah mencapai tahap stadium ketika diperiksakan ke dokter. Tentu saja keadaan ini sangat tidak menguntungkan. Selain itu, kasus penyakit ini menjadi sulit ditangani dengan baik dan memuaskan, serta biaya yang dikeluarkan akan sangat mahal.
Penyebab Kanker Leher Rahim
Akibatnya meningkatnya jumlah penderita kanker leher rahim dan juga meluasnya rentang usia wanita yang menderita penyakit ini (dulu biasanya hanya menyerang wanita berusia 45 tahun keatas, sekarang banyak wanita berusia 30 tahun yang sudah terkena penyakit kanker leher rahim), pada ahli kandungan akhirnya mencari tahu penyebab kanker leher rahim. Akhirnya ditemukanlah sebuah virus yang diberi nama HPV (human pappilomavirus) yang terdiri dari lebih 100 macam. Pengelompokan kanker berdasarkan jenis yaitu tipe 16 dan 18. Setelah diteliti, kedua jenis virus tersebut mengganggu pengembangbiakan sel normal. Sel-sel yang terserang virus ini dapat berkembang dengan sendirinya tanpa dapat dikendalikan oleh tubuh sehingga lama kelamaan menjadi sel kanker.
Perlindungan dan Pencegahan Dini
Akhir-akhir ini ditemukan cara mencegah virus HPV. Lantas dibuatlah sejenis vaksin yang dapat diberikan sebagai pencegahan terjadinya kanker sel rahim. Sebelum itu semua menjadi kenyataan, hal penting yang perlu dilakukan adalah imunisasi sejak dini. Usia 9-15 tahun adalah waktu terbaik untuk melakukan imunisasi kanker leher rahim. Tetapi, dapat juga diberikan pada wanita berusia 22-25 tahun.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan, pemberian vaksin sejak dini dapat melindungi para wanita dari kanker leher rahim (dalam kurun waktu sekitar 5 tahun). Bagi para wanita yang sudah terinfeksi HPV, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengobati penyakit tersebut lebih dahulu, agar virus HPV tidak berkembang menjadi sel kanker. Setelah diobati, baru dilakukan vaksinasi. Dengan penanggulangan semacam ini, dapat membentuk antibodi di dalam tubuh. Secara otomatis sudah melindungi pasien dari kemungkinan mengidap penyakit kanker leher rahim.
Tindakan pencegahan dini yang dapat dilakukan bila belum pernah divaksinasi:
  • 1.    Melakukan papsmear. Salah satu metode deteksi dini agar dapat mengetahui ada atau tidaknya infeksi. Bila sudah ketahuan ada gejala, sebaiknya melakukan terapi penyembuhan.
  • 2.    Hindari hubungan seksual yang tidak sehat atau multi partner.
  • 3.   Mengingat HPV ditularkan melalui hubungan seksual, maka hindari kontak langsung dengan pasangan yang tidak sehat atau gunakan kondom.


Sumber: zona sehat bintaro

Kesaksian Ibu Hasta Oktavini :


Artikel lainnya : Redam Panas di Perut
Artikel sebelumnya: Deteksi dini Kanker Payudara

Cara Mengetahui gejala awal kanker payudara



Cara Mengetahui gejala awal kanker payudara dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu mammografi atau USG. Kedua cara ini berperan untuk melihat penemuan keainan sel pada awal-awal perkembangan sel kanker yang tidak dapat terdeteksi melalui SADARI. Mammografi sangat baik untuk mendeteksi dini kanker payudara, sedangkan USG payudara sangat peka untuk mlihat tumor jinak walaupun kurannya
masih sebesar 3-5 mm. bila tumor sudah berukuran lebih dari 3-5 mm, baik USG maupun mammografi dapat dilakukan.

Bila pasien berusia 35-60 tahun, dokter biasanya akan menganjurkan kedua pemeriksaan (USG dan mammografi) sekaligus. Bila usia pasien dibawah 35 tahun, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dengan USG. Pemeriksaan langsung  dengan mammografi biasanya dianjurkan untuk wanita berusiadiatas 60 tahun, atau wanita yang sudah pernah menyusui tanpa terbatas uberpa usianya. Karena dengan menyusui, jaringan payudara sudah tidak terlalu pada.

Mammografi hanya berlangsung selama 15 menit dan sebaiknya dilakukan pada hari kelima menstruasi atau sesudahnya karena payudara akan ditekan selama pemeriksaan sehingga akan terasa nyeri. Seorang dokter spesialis patologi anatomi akan melihat sel-sel yang berpotensi kanker (apakah ada sel yang berubah bentuk atau tumbuh abnormal) dengan bantuan mikroskop. Hasilnya akan dirujuk ke dokter spesialis bedah kanker/onkologis. Jadi sangat penting bagi kita untuk deteksi dini kanker payudara.

Sumber: zona sehat bintaro

Synergy worldwide memilikiserangkaian produk untuk menunjang kesahatan. utamanya Noni Plus karena produk ini memiliki banyak manfaat diantaranya : emperlambat pertumbuhan sel kanker dan tumor, merelaksasi syaraf, menunjang kardiovaskular, menteralkan tekanan darah. khusus untuk masalah hormonal, noni akan menstabilkan termasuh untuk penyakit kanker / tumor.  Ditambahkan Spirulina, sumber protein tinggi, mempebaiki sel2 yang rusak akibat radikal bebas, termsuk diantaranya aadlah kanker /tumor.

Testimoni bu Dewi, video.


artikel sebelumnya : Deteksi Dini kanteker pada wanita

Deteksi Dini Kanker Pada Wanita


DETEKSI DINI KANKER PADA WANITA

Kanker pada wanita, merupakan kasus yang sering kita temukan, teruata kanker payudara dan kanker serviks. Kanker payudara merupakan jenis kanker pembunuh nomor dua wanita Indonesia setelah kanker serviks (kanker mulut rahim atau leher rahim). Karena itu penyakit ini harus diwaspadai. Mendeteksi penyakit kanker secara dini akan memperbesar kemungkinan hidup penderitanya. Apa daja yang harus dilakukan untuk mencegahnya?

Pencegahan penyakit kanker pada wanita, khususnya untuk kanker payudara dan kanker serviks, dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dini. Bila kedua kanker ini ddideteksi sejak dini, walaupun pengidapnya adalah wanita berusia lanjut, namun proabilitas kesembuhannya berpengaruh pada morbiditas dan mortalitas sangat tinggi.

Untuk penyakit kanker payudara, pemeriksaan dini yang dapat dilakukan sendiri adalah dengan melakukan SADARI (pemerikSAan payuDAra sendiRI). Deteksi dini kanker payudara di rumah sakit biasanya dengan melakukan USG dan mammografi. Sementara untuk penyakit kanker serviks, deteksi dini yang biasanya dilakukan adalah dengan melakukan pap smear.

Dengan kemajuan teknologi, kaum wanita perlu bersyukur, karena hanya kanker yang terdapat pada wanita yang dapat dideteksi dini, dengan menggunakan berbagai pemeriksaan mutakhir seperti USG, mammografi, papsmear, maupun USG trans vaginal. Pemeriksaan ini disarankan dilakukan secara rutin, minimal setahun sekali, terutama apabila Anda sudah pernah melakukan hubungan intim.

Sumber: zona sehat bintaro

Noni Plus dan Spirulina untuk membantu penanganan kanker.

Artikel lainnya: Deteksi dini Kanker payudara
Artikel sebelumnya : Pencegahan gagal jantung